Home » » Aini

Aini

Written By Anggoro Rahmadi on Selasa, 08 April 2014 | 06.31

      Aini sudah bersiap dengan tas barunya. Sepatu pun baru. Tapi wajahnya tetap saja, selalu murung ketika hendak berangkat ke Sekolah. Bukan karena dia malas, tapi lebih tepat karena ayahnya. Kira-kira sudah sepuluh menit dia berdiri tegak di depan pintu. Pindah di dekat sepeda motor ayahnya, masuk kedalam rumah untuk melihat sedang apa ayahnya, atau sekedar terlihat pucat memandang jam dinding di rumahnya. Setengah tujuh! Dia benar-benar panik.

“Ayah..! Buruan. Nanti terlambat, ini hari pertamaku masuk sekolah.”, teriak Aini sambil berjalan menghampiri motor dan menghentakkan kakinya lebih keras.

“Iya, tunggu sebentar, masih jam setengah tujuh. “ Ayah masih tenang saja. Perlahan berjalan menghampiri Aini dan motornya.

“Cepat Ayah! “ Aini masih saja bergumam di tengah jalan. Dia merasa motornya tidak melaju. Hanya merangkak. Ayah Aini memang sangat cool. Beliau selalu tenang menghadapi apa pun. Termasuk menghadapi anaknya, Aini yang bawel itu. Hanya senyum manis yang terukir di bibirnya. Sangat manis.


Nah, kalau Aini..

      Dia remaja yang tidak terlalu cantik, tapi tidak akan bosan kalau memandangnya. Dia sangat manis. Mungkin memang keturunan dari Ayahnya. Senyumannya begitu sejuk. Indah. Walaupun tidak ada lesung pipit di pipinya, tetap saja ada yang mengesankan dari setiap lekuk senyumnya. Dia juga pintar, Juara kelas dari SD sampai SMP. 9 tahun. Baru saja Aini diterima di SMA Negeri terpopuler di kotanya. Kata orang-orang, sekolah elit. Bukan Cuma itu saja modalnya. Dia juga ramah, mudah bergaul, tapi tetap sopan. Orang tuanya selalu membanggakannya. Maklum, anak tunggal, bibit unggul.

      Aini panik. Tepat sekali ketakutannya. Sesampainya di Sekolah, gerbang sudah ditutup. Aduh. Padahal ini hari pertamanya di Sekolah baru. MOS lagi. Belum ada yang dikenal, belum juga tau bagaimana caranya bisa masuk tanpa dihukum. Singkatnya, dia belum menguasai medan. Akan diapakan dia oleh kakak-kakak kelasnya nanti.

      Dia berjalan menuju gerbang utama. Gerbang itu memang bukan lalu lintas siswa yang hendak masuk ke Sekolah. Bahkan tidak pernah. Sudah tradisi. Seandainya bukan tradisi pun, Aini yakin tidak akan ada yang mau melewati gerbang itu. Bukan karena angker, atau dianggap berhantu. Karena letaknya yang srategis, justru membuat gerbang itu sepi. Gerbang besar bertuliskan Visi dan Misi sekolah di temboknya. Pas di depan gerbang adalah kantor Kepala Sekolah, yang terhubung jalan setapak yang membelah lapangan upacara menjadi dua. Nah, siapapun yang lewat jalan itu, akan terlihat oleh seluruh siswa di depan kelas mereka. Dan spontan akan muncul tepukan tangan yang riuh diiringi tawa.

“Cie,.. ada model jalan di catwalk. “, dan seakan seluruh sekolah akan menertawakan orang itu. Malu. Karena itu jantung Aini sudah meloncat-loncat dari tadi.

“Gara-gara ayah sih.”, gumamnya.

      Gerbang itu telah dilewatinya. Tapi aneh, tidak ada riuh tepuk tangan, atau olokan yang diarahkan kepadanya. Sepi. Dia lega, tapi heran. Kemana orang-orang. Dia terus berjalan melalui jalan setapak itu. Telah terlewati. Murungnya, pucatnya sudah tergantikan senyum.Dia merasa aman.

      Belum sempurna senyum yang melengkung itu. Tiba-tiba dipaksa untuk turun lagi. Dua orang berdiri tegap di belakangnya.

“Jam berapa ini, dik?”, salah satu orang berkata tidak terlalu keras tapi sangat sinis. Terdengar suaranya perempuan. Aini menoleh dan membalikkan badannya. Tidak bisa dia berkata. Yang di hadapinya dua kakak kelas. Satu perempuan, dan satunya lagi laki-laki. Sama tinggi. Yang perempuan berkacamata. Tatapannya tajam. Seandainya tidak berkacamata, pasti sorotanya menusuk mata Aini. Rambutnya terurai panjang. Badannya dibalut kulit yang bersih, putih, dan tampaknya akan sangat lembut jika menyentuhnya. Dia tidak cantik, tapi terlihat anggun dengan tubuh tinggi semampai dan rambutnya yang indah, hitam berkilau.

      Sedangkan satu sosok yang berdiri disampingnya, aduh. Aini tidak akan melupakan sosok itu. Aini sudah pernah mengenalnya. Aini melirik tulisan di baju OSIS pemuda itu. Yah, benar. Dugaan Aini tepat. Pemuda itu bernama Reza Pradiptya. Nama itu. Reza. Dia satu-satunya pemuda yang meluluhkan kokohnya benteng “anti cinta” yang dibangun Aini sejak kecil. Aini memang tidak pernah tertarik kepada satu pun pria. Bukan karena tidak laku. Bahkan sebaliknya. Dia laku keras di pasaran. Banyak pemuda yang ingin menjadi pendampingnya. Tentu saja pacar, bukan suami. Dari yang umurnya 4 tahun diatasnya, sebaya, sampai yang 2 tahun dibawahnya pun pernah meminta dia untuk menjadi pacar mereka. Entah kenapa. Sebenarnya memang tidak begitu cantik, menurut Aini sendiri. Tapi apa mungkin pemuda-pemuda itu memiliki mata yang lain dengan yang dipunya Aini. Ternyata itu bukan alasan utama bagi cowok-cowok itu. Aini manis, pintar, ramah, bisa dengan mudah mendapat simpatik, berkarisma tinggi, dan senyumnya… Aduh. Pemuda mana yang tidak terhanyut dalam bahagianya. Senyum itu tidak perlah lepas. Selalu menempel, sudah paten.

      Aini pernah cerita pada Rena, sahabatnya 3 tahun lalu. Yang selalu duduk bersama di bangku Sekolah. Heran, tidak bosan-bosannya mereka bersama.

“Kenapa ga’ diterima saja? ”

“Enggak ah, bukan tipeku. “

“Tipe yang seperti apa yang kamu cari ? Christian Sugiono ?”

“Kalo dia mau sih, gak papa. “

“Huss. Jangan ngayal! Kejauhan “

“Habis, gak ada yang nyantol. “

“Kamunya aja yang gak mau nyantolin.”

“Ah, bodo masalah cowok. Aku pengen belajar dulu. Paling tidak, nurutin kata Pemerintah, Program Belajar 9 Tahun.”

      Aini memang sangat peduli dengan masa depannya. Dia tidak mau pusing-pusing mikirin cowok. Yang penting kedua orang tuanya bangga. Anak satu-satunya. Harus bisa jadi Dokter. Seperti yang diinginkan Ayahnya kepada Aini.

“Nak, ayah igin kamu menjadi dokter, sangat ingin. Wujudkanlah keinginan ayahmu ini. “ kalimat itu selalu terdengar di telinga Aini dengan tiba-tiba. Tanpa diundang. Nada ayah saat itu halus, tidak ada pemaksaan, dengan nada penuh harap.Tapi justru itulah kelemahan Aini. Dia tidak suka dipaksa, tapi lebih suka dimintai tolong. Makanya, dia sepintar ini. Karena dia mempunyai sebuah motivasi. Untuk ayahnya. Dan apapun yang akan menghalangi cita-citanya, akan dirubuhkan begitu saja.

      Tetapi tekadnya yang kuat itu mulai rapuh. Hancur perlahan-lahan ketika bertemu dengan Reza. Kakak kelasnya di SMP. Bukan pandangan pertama. Satu tahun, biasa saja. Tapi tahun terakhir Reza berada di Sekolahnya, justru rasa itu muncul. Tepatnya saat mereka sama-sama mengikuti pelatihan untuk lomba SAINS. Mewakili Sekolahnya di berbagai lomba memang sesuatu yang biasa bagi Aini. Tapi lomba kali ini begitu berkesan. Mendebarkan. Dua kali lipat. Aini perwakilan untuk perempuan, dan Reza perwakilan untuk laki-laki. Mereka sama-sama berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi Sekolah mereka. Hanya tingkat Kabupaten. Satu minggu mereka hanya berdua saja belajar. Dibekali berbagai macam soal-soal dari tahun 2000 sampai soal yang terakhir. Semua dipelajari.

      Saat itulah Aini mulai tertarik pada cowok. Tepatnya, hanya kepada Reza. Dia pintar, tidak pernah macam-macam, tidak melotot kalau ada cewek bagusan dikit lewat. Cool, tampan pula. Badannya tinggi, tegap. Senyumnya juga bagus, walau tidak seindah senyum Aini. Tetap ada sedikit hawa dingin, walau Reza tersenyum. Tapi itu yang berbeda. Aini justru tertarik pada cowok yang limited edition seperti Reza. Lagipula dia pintar. Kelewat pintar malah. Jarang-jarang ada cowok pintar. Dan ini yang paling disuka dari Reza. Otaknya, cling.

      Aini, Reza, dan guru pendampingnya berdiri di dekat panggung dengan hati was-was. Sesaat lagi pengumuman kejuaraan segera dilaksanakan. Ketiganya tegang. Harap-harap cemas. Sebenarnya semua yang ada disitu juga merasakan hal yang sama. Berharap nama merekalah yang disebut paling akhir, sebagai Juara pertama.

“Hadirin, yang pertama akan kita bacakan Juara Harapan II sampai dengan Juara I, untuk laki-laki. “ Jantung Reza berdegup amat kencang. Sampai-sampai Aini yang berada persis di sampingnya pun mengetahuinya.

“Juara Harapan II..” bukan nama Reza yang dipanggil.

“Juara Harapan I…” Reza kembali kecewa. Mukanya bertambah pucat. Dia sudah tidak menghiraukan lagi teriakan histeris laki-laki yang baru saja dipanggil namanya. Dia tetap fokus, menatap pembawa mikrofon itu dengan tajam. Berharap namanyalah yang akan dipanggil kemudian untuk maju ke atas panggung.

“Juara III…” Ah, Reza begitu kesal kali ini. Dia sudah tidak berharap lagi. Namanya pasti tidak ada dalam daftar itu. Dia begitu kecewa. Reza memang sudah mempehitungkan. Dari pengalaman, dia hanya berharap mendapat urutan saja. Paling baik juara III lah. Tapi semua sudah berakhir. Dia putus asa.

      Aini melihat itu. Dia tahu apa yang dirasakan patnernya. Walaupun Reza sangat pintar di Sekolahnya, untuk seorang laki-laki, dia masih kalah dengan Sekolah tetangga. Maksudnya, Sekolah yang berada persis di samping Sekolah mereka. Belum pernah bisa mengalahkan mereka, sepanjag sejarah. Sekolah Aini memang langganan peringkat ke dua. Tidak pernah berubah, setahunya. Di berbagai lomba, Tunas Bangsa yang menjadi saingannya tu selalu mendapat peringkat I dan II. Yah, Sekolah elit, Swasta pula. Banyak fasilitas yang mendukung. Termasuk murid-muridnya yang modalnya mendukung pula.

“Juara II, Reza Pradiptya. Dari SMP N 1. “ Reza terhenyak. Kecewanya hilang menjadi kebingungan. Salah bacakah orang itu. Atau Reza yang salah dengar. Aini pun ikut kaget. Menyadarkan dia dari lamunannya. Kemana wakil Sekolah Tunas Bangsa yang satunya. Sekolah Tunas Bangsa memang selalu mendapat kuota lebih banyak. Mereka selalu mengirim dua anak di setiap kompetisi. Dua perwakilan untuk putra, dan dua perwakilan untuk putri. Padahal Sekolah lain hanya boleh mewakilkan dua anak. Tidak adil, memang.Tapi sudahlah.

“Aini, itu benar untukku?” Reza menatap Aini dengan penuh harap. Mata begitu indah. Aini tidak pernah melihat mata seindah ini melekat di wajah Reza sejak pertama mereka bertemu. Berwarna, berseri. Aini begitu mengagumi itu. Dia kembali tertegun, diam.

“Aini! ” bentak Reza dengan suara lebih keras.

“Mmmm, iya kak. Itu untukmu. Piala itu untukmu. Sana, cepat ambillah. Raih kemenanganmu. Keburu di ambil orang. “ senyum terbaik Aini muncul lagi. Membawa keyakinan pada Reza. Dipegangnya tangan Aini oleh Reza.

“Terima kasih Aini. “ sebelum beranjak pergi Dia memegang kepala Aini. Menjitakknya. Entah kenapa, Aini juga tidak tahu. Reza meninggalkan Aini untuk menyambut pialanya. Tapi Aini, tertegun melihat tingkah Reza baru saja. Dia benar-benar berbeda. Dimana Reza yang dingin. Biasanya Reza jarang mengajaknya bicara. Walau setiap hari bertemu di ruangan yang sama selama seminggu, baru kali ini Aini merasakan hangatnya pembicaraan mereka. Biasanya hanya basa-basi atau sekedar berdiskusi tentang satu soal yang belum bisa dipecahkan, walau dihadapi dua otak super. Darah Aini mengalir kemana-mana. Begitu cepat. Dan sekarang menuju mukanya. Mukanya begitu merah padam. Indahnya, pikir Aini.

      Reza kembali ke arah Aini dengan membawa sesuatu. Piala yang tidak terlalu besar, kelihatannya juga tidak semahal perhiasan yang sering dipakai ibunya. Tetapi itu yang membuat Reza begitu berubah. Hanya barang itu. Wajah Reza semakin berseri. Tersenyum hangat menyambut tepukan tangan Aini. Reza menghapiri Aini, tepat berada disampingnya. Dekat. Begitu dekat untuk Aini. Piala itu dibawa diantara mereka. Reza meraih tangan Aini dan meletakkannya di piala itu. Tentu saja maksudnya Reza ingin mereka berdua bersama-sama membawa piala itu. Reza sadar akan suatu hal. Dia buru-buru mengambil sesuatu dari kantong celananya. Hand Phone. Ya, berkamera. Dan tanpa meminta izin Aini, Reza mengambil satu gambar. Gambar mereka berdua membawa satu piala di tengah mereka. Aini hanya tersenyum.

      Naah, sekarang giliran Aini yang tegang. Pengumuman kejuaraan untuk putri sudah mulai diumumkan. Juara Harapan II bukan dia. Harapan I pun nama dia tidak disebutkan. Aini harap-harap cemas. Sanggupkah dia membawa piala seperti yang dipegang Reza sekarang. Lebih besar, atau kecil ? atau justru tidak sama sekali. Juara III saja sudah tidak di harapkan lagi. Sudah dibacakan, dan dia bukan yang di inginkan untuk maju ke panggung itu. Tinggal ada Juara I dan II. Dan biasanya diborong SMP Tunas Bangsa. Yah, dugaan Aini tepat. Juara II diraih siswi dari SMP Tunas Bangsa. Sudah pupus Harapan Aini. Dia merunduk malu, kecewa. Terutama malu kepada Reza. Dia tidak mendapatkan apa-apa. Sedangkan Reza, menjadi juara II. Ah, apa pikiran Reza sekarang. Menatap Reza pun Aini tidak berani. Tapi Reza tau apa yang harus dia lakukan.

“Sudah, Aini. Kamu sudah berjuang bersamaku. Ini piala kita. Kemenagan kita berdua. Bukan hanya untukku, tapi kamu juga.” Reza mengatakannya dengan perlahan, hati-hati. Takut menyinggung hati Aini.

“Tidak. Aku sudah menduga ini sejak awal. Bukan piala yang terpenting. Pengalaman sudah aku dapatkan disini. Mengikuti lomba, bersama kakak. Menyenangkan. Piala itu tertulis namamu, kak. Hanya namamu. Itu milikmu sepenuhnya. Ambillah.” Senyum yang tidak sehangat biasanya menempel terpaksa di bibir perempuan manis itu. Tangannya menyodorkan kembali piala yang tadi diberikan Reza untuknya.

“Kenapa kalian ? Sudahlah. Ada yang kita lupakan. “ Nampakknya guru pembimbing mereka sudah tidak tahan dengan suasana ini.

“Masih ada satu lagi. Juara I belum diumumkan. “ Wajah beliau mengisyratkan sebuah harapan. Ketenagan untuk Aini.

“Iya, Aini. Siapa tau kamu jadi yang pertama. Wah, hebat.”

“Hhhhh..” dengus Aini mencoba menerima perhatian mereka. Walaupun keraguan begitu dalam terlihat di wajahnya. Tapi senyumnya tak pernah lepas. Ketiganya menghadap ke panggung menatap dengan penuh arti, harapan, dan doa. Hanya Aini saja yang tidak begitu bersemangat.

      Sejenak Aini melambung dengan dunianya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya. Kosong. Hanya melamun saja. Dia tahu akan mengecewakan Guru pembimbingnya, orang tuanya, dan… Reza. Tiba-tiba saja Aini begitu merasa dadanya sesak. Seperti tertindih batu besar, kokoh. Hampir Aini berteriak karena kaget dan sakitnya. Tapi sebelum hal itu terjadi, beban itu sudah mereda. Melonggarkan sesak di dadanya. Aini bernafas cepat. Seperti habis lari maraton. Aini sadar ketika ada tangan yang menggoncangnya keras. Ada gempa? Pikirnya.

“Aini! “ suara Reza menyadarkannya. Dia tersadar dari lamun panjangnya. Ternyata yang dikira batu tadi adalah pelukan ibu Guru pembimibingnya. Dia memeluk Aini erat. Dan yang dikiranya gempa, juga ulah Gurunya yang ingin menyadarkan Aini. Ibu Guru ini memang Super. Badannya gemuk. Jadi pantas saja Aini merasa sesak saat beliau memeluknya. Tapi, kenapa dengan kak Reza dan Gurunya? Dua pasang bola mata itu memandang Aini dengan berbinar. Eh, mata bu Guru malah berkaca-kaca. Aini bertambah bingung.

“Aini, kamu tadi tidak dengar? Kamu juara I! nomor satu. Yang terbaik, Aini.” Reza mengatakan itu dengan bersemangat. Dia mengerti kebingungan di wajah Aini. Makanya, dia ingin menyadarkan Aini sebelum orang-orang menunggu Aini terlalu lama untuk mengambil piala. Nama Aini memang sudah 3 kali dipanggil. Tanpa menunggu Aini benar-benar tersadar, Reza mendorongnya untuk naik ke atas panggung. Saat menerima piala dan membaca apa yang tertulis di piala itu, Aini semakin yakin. Dia yang memenagkannya. Juara I. raut bingung di wajahnya berubah berseri. Nah, senyum manisnya muncul lagi. Sedangkan Reza sibuk mengambil foto Aini yang sedang menerima piala.


      Aini turun dari panggung dan disambut Reza dan Gurunya. Terlihat sekali mereka bangga. Senang.

“Eh, Aini. Kenapa pialamu lebih besar daripada punyaku?” goda Reza kepada Aini sambil membandingkan kedua piala yang telah mereka dapatkan. Aini tersenyum malu. Sekarang foto-foto lagi. Kali ini dengan dua piala. Wah, rasanya hari ini tidak akan pernah terlupakan untuk Aini. Begitu indah.

      Benar saja, hari itu memang tidak pernah dilupakan Aini. Sampai sekarang pun, setelah dua tahun berlalu. Dan sekarang, laki-laki itu tepat berada di hadapannya. Kali ini dengan wajah yang berbeda dari hari itu. Tatapannya kembali dingin. Seolah tidak pernah ada peristiwa istimewa itu untuk Reza. Bahkan mungkin akan marah. Memarahi adik kelasnya yang terlambat pada hari pertama masuk sekolah. Yah, memang sudah tradisi kan, 3 hari MOS memang dikuasai olek kaka kelas. Utamanya yang menjadi pengurus OSIS. Bisa melakukan apa saja kepada anak baru. Ini yang paling dibenci Aini. Kenapa harus ada MOS?

      Aini dibawa ke lapangan. Dan sekarang dia tidak sendirian. Ada seorang cowok yang juga menunduk ketakutan. Masih menggunakan Celana pendek berwarna biru. Ya, mungkin dia juga terlambat. Tapi ada sedikit kelegaan di wajah Aini. Dia tidak sendiri. Kali ini bukan dua orang saja yang menghadapinya. Lebih banyak. Tapi Aini tidak pernah menghitungnya. Mungkin 4, 5, atau 6. Saat itu dia benar-benar ketakutan. Mengira-ira apa yang akan menimpanya dan satu teman didekatnya sesaat lagi. Yang dia tahu, Reza hanya berdiri tegap agak menjauh. Hanya mengawasi dari kejauhan. Tapi Aini tetap bisa merasakan. Dia diawasi. Teman-teman Reza membentaknya. Ah, entah apa yang mereka bicarakan, Aini tidak peduli. Dia hanya mampu menunduk tanpa bicara. Di benaknya sekarang hanya ada Reza. Mungkinkah di melupakan Aini? Seseorang yang pernah berjuang bersamanya dua tahun yang lalu. Kenapa sama sekali tidak menyapanya. Atau seperti pahlawan, menyelamatkan Aini dari hukuman. Tapi tidak mungkin. Aini sudah tidak mengharap itu. Dari sikapnya saja Aini sudah bisa membaca. Reza memang tidak pernah memperhatikan Aini.

      Terengah-engah Aini menahan capainya. Hukuman untuknya adalah berlari mengelilingi lapangan sekolah 5 kali. Bukan hanya itu. Dia diharuskan membungkukkan badannya dan mengatakan “ maafkan saya ” setiap kali bertemu dengan pengurus OSIS, selama satu hari ini. Seharian dia bersama cowok yang menerima hukuman yang sama dengannya. Saling menyemangati. Berlari mengejar kakak kelas hanya untuk membungkukkan badan dan meminta maaf. Tapi untunglah, Tuhan masih menyayangi Aini. Malu ini tidak ditanggungnya sendiri. Ada seorang teman yang bersamanya.

“ O ya, siapa namamu? ”

“ Aku? Aku Aini. Panggil saja dengan nama itu. “

“ Kalau aku, Galih.” Cowok itu memperkenalkan diri tanpa diminta. Aini hanya tersenyum, tidak mau melanjutkan pembicaraan mereka. Ya, Aini menjadi sedikit pendiam ketika melihat sikap Reza. Ada apa dengan Aini. Sampai-sampai dia tidak peduli, siapa yang menemaninya menjalani hukuman ini, dan apa yang dia lakukan.

      Ada saja tingkah kakak kelas ketika dimintai maaf. Kalau kakak kelasnya cowok, matanya tidak pernah berpindah untuk memandang Aini. Nah, kalau cewek, juga tidak jauh berbeda. Hanya saja Aini tidak diacuhkan. Pandangan kakak kelas genit itu berpindah ke temannya. Galih ini memang cukup tampan. Hanya saja tidak terlalu tinggi. Tapi cukup memikat para wanita. Tapi tentu saja hal ini tidak berlaku untuk Aini. Dia masih sangat mengharapkan Reza lah yang akan menjadi pacar pertamanya. Ah, hari ini memang tidak menyenangkan untuk Aini. Sekolahnya tidak akan menyenangkan seperti SMPnya dulu. Pikir Aini.

“Eh, lihat. Kakak itu. Dia juga pengurus OSIS. Ayo! “ Galih mengagetkannya sambil menunjuk ke satu arah dengan bersemangatnya. Aini menoleh, dia shock. Seseorang yang ditunjuk Galih adalah cowok yang tinggi, tampan, menawan. Yah, Reza. Dan mereka berdua menghampiri cowok itu.

“Selamat siang, kak..” kata cowok yang berada di dekat Aini seharian ini tadi.

“Saya Galih, dan ini teman saya, Aini. Tadi kami terlambat masuk sekolah. Kami minta maaf. “ Kata-kata Galih begitu hati-hati. Sedangkan Aini hanya diam, menunduk. Menatap belahan hatinya saja tidak berani. Dan Reza, hanya memandang keduanya dengan dingin. Dan tidak menunggu lama, dia pergi begitu saja. Tanpa satu kata pun. Ah, bahkan senyum pun tidak. Aini semakin tersentak. Hatinya, entah bagaimana rasanya. Sedangkan Galih, tidak peduli apa yang dilalukan kakak kelas itu barusan. Yang penting mereka sudah menjalankan tugas untuk meminta maaf.

      Sudah hampir pulang, Galih dan Aini sedang duduk menahan capai mereka. Betapa melelahkannya hari ini. Dan suara bel 3 kali berbunyi. Galih dan Aini berpisah, besuk mereka tidak akan menjalani hukuman bersama lagi. Seandainya saja tidak terlambat esok harinya lagi. Aini biasa saja. Tapi Galih.. diam-diam dia mengagumi Aini. Berat rasanya berpisah. Walaupun hari ini penuh hukuman, tapi dia cukup senang, bersama cewek cantik seharian. Siapa yang menolak?

      Sesampainya di rumah, Galih baru tersadar. Kenapa hanya menanyakan nama? Nomor HP? Aduh. Bodohnya dia. Dan benar saja, seharian Galih menyesali perbuatannya. Seharian bersama, ada banyak waktu untuk lebih mengenalnya, meminta nomor HP Aini, Tanya dimana rumahnya, atau apa saja yang menbuat mereka menjadi lebih dekat. Malam-malam pun Aini diundang untuk mengunjungi mimpi Galih. Entah apa isi mimipinya, seperti apa alur ceritanya, yang jelas ada Aini di mimpinya..


Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Gunakan kata-kata sopan dan bijak yaa...

easy stats


Flag Counter
SEO Stats powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! SEO Reports for anggoro-rahmadi.blogspot.com My Ping in TotalPing.com
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Ang Note's - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger